Kenapa dianalogikan Lebah?

Abdulsidik.COM~ Awalnya saya sempat bertanya-tanya. Kenapa orang beriman dianalogikan seperti lebah?

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah, selalu makan yang baik-baik dan mengeluarkan yang baik-baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak,” HR Ahmad.

“Persamaannya adalah lebah itu cerdas, rendah hati, merasa cukup, sarat manfaat, taat pemimpin, jarang menyakiti, menjauhi kotoran, makanannya halal dan tayyib, tak mau makan dari hasil kerja orang lain, bekerja di siang hari, dan berhenti kerja bila ada gelap, mendung, angin, asap, air, dan api,” Al-Munawi.

Setelah dipelajari lebih lanjut, barulah saya tahu ternyata lebah memiliki banyak kelebihan berbanding hewan-hewan yang lain. Terus, apa saja kelebihan lebah itu? Ini dia:
- Membantu penyerbukan
- Sarangnya steril
- Sangat well-organized
- Mengutamakan teamwork
- Menguburkan rekannya yang mati
- Mampu berhitung
- Ditakuti gajah
- Bentuk tubuhnya tidak aerodinamis tapi bisa terbang dengan sangat cepat
- Mampu memilih lubang yang besar sehingga mengurangi risiko benturan
- Mengetahui jarak terdekat dari berbagai alternatif
- Mengetahui ranjau walaupun dari jarak jauh

Selama ini, kita pun mengenal beragam khasiat dari produk-produk turunan lebah seperti madu, propolis, dan royal jelly. Menariknya, ini sudah tercantum di Surah An-Nahl.

Dengan kata lain, lebah hanya membawa manfaat, manfaat, dan manfaat. Bukankah begitu? Sudah sepantasnya kita meniru yang baik-baik dari lebah.

Sumber: https://t.me/ipphoright

Post a Comment

0 Comments